BAB I
MIMPI PERTAMA...
"Arlene!!! Ayooo cepat bangun!!! Sekarang sudah pukul 5.30. Cepat bangun pemalas!!". Teriakan mama yang dahsyat membuatku terbangun dan melihat jam wekerku. Astaga! Hari ini ada ujian dan aku belum berangkat sekolah juga?! Mati aku!
Aku melompat dari tempat tidurku, mengambil handuk, dan berlari menuju kamar mandi. Hari ini ujian matematika dan aku terlambat, sungguh pagi yang sangat "indah"!
Ketika selesai mandi aku langsung berpakaian dan yaaa ini sangat tidak rapi. AKU BELUM MENYETERIKA SERAGAM SEKOLAHKU! Ah sudahlah, aku tidak peduli!. Aku memakai dasi, menyisir rambutku yang bergelombang dan cukup panjang sebatas setengah punggung, lalu memakai kaus kaki putih dan sepatu pantopelku yang berhak 4 cm.
Aku mengambil buku yang akan kubawa, memasukkannya ke dalam tasku, dan berlari keluar kamar. Dan untungnya mamaku sudah menyiapkan bekal makanan untuk kubawa ke sekolah. Tak terasa sudah pukul 6.00, sedangkan aku masuk pukul 7.00. Jarak dari rumah ke sekolahku memang sangat jauh. Sekitar satu jam perjalanan, itupun kalau jalanan lancar. Setiap hari hantu "macet" selalu menggentayangi kota ini. Kotaku tercinta. Kota kelahiranku. Jakarta.
"Mama, aku pergi dulu yaaa...", aku berpamitan dengan mama, menjabat dan mencium tangannya. Itulah tradisi kami. Papaku sudah menunggu di luar menunggangi motornya yang cukup tua untuk mengantarku menuju halte bus transjakarta.
"Ayo pa, berangkaaaaatt....!!", ucapku sembari menaiki motor papa. Dengan kecepatan 80 km/jam ayah mengendarai "kuda" tua itu dihiasi oleh suara gedek-gedek nya yang khas seperti suara sepatu kuda. Hahaha motor yang unik, bukan?
"Aku berangkat ya pa, udah telat banged nih", aku menjabat dan mencium tangan ayah. Aku langsung berlari menaiki tangga penyeberangan dan menuju halte bus yang terletak di tengah-tengah trotoar pembatas jalan.
Kulihat jam tanganku yang berwarna silver, dan jantungku langsung berdegup karena waktu telah menunjukkan pukul 6.15. Ketika aku memasuki halte, betapa gembira hatiku ketika melihat bus yang akan tiba dari kejauhan dan antrian pun gak terlalu banyak.
Huuhhh... Akhirnya aku dapat menaiki bus walaupun berdesakan pastinya, tapi aku tidak boleh bersantai begitu saja karena aku tentu akan terlambat. Tapi kupikir segala sesuatu pasti akan mungkin terjadi. Aku percaya itu. Nothing is impossible. Segala sesuatu memungkinkan bagi Tuhan. Bisa saja aku tidak terlambat. Who knows?
Daaaaannn yak! Aku tidak terlambat! Ketika aku memasuki lobby sekolah, bel tanda masuk langsung berbunyi. Di sekolahku pada pagi hari sebelum pelajaran dimulai, diadakan Tadarusan bagi umat Islam, dan untuk yang Kristen diadakan Saat Teduh. Aku berlari menuju ruang kelasku. Ketika sampai aku langsung mengambil Alkitabku dan berlari ke ruang multimedia untuk mengikuti ibadah Saat Teduh.
"Wah Arlene, telat lo ya?! Jiahahaha", ledek salah satu temanku.
"Iya! Bawel ah lo!", balasku jutek.
Saat teduh pun dimulai. Kami mengawalinya dengan menyanyikan lagu puji-pujian bagi Tuhan. Tak lama kemudian masuklah salah seorang adik kelasku, dia laki-laki, dan yaaa cukup tampan bagiku. Dia duduk 3 baris di sebelah kananku. Sebagai seorang remaja perempuan, tentu saja aku terpana melihat adik kelas yang indah dipandang itu. Hatiku berdebar. Tapi kupikir-pikir dia orangnya sangat cuek, dan kenapa aku baru melihat dia sekarang ya? Aku kelas 3 dan dia kelas 2. Sepertinya dia baru selesai menjalani praktek kerja di industri. Ya, tentu saja. Sekolahku adalah sebuah sekolah kejuruan di bidang pariwisata. Setiap siswa yang sudah duduk di kelas 2 diwajibkan untuk mengikuti praktek kerja industri.
Aku bertanya-tanya, siapa nama anak itu? Aku pikir aku mulai menyukainya. Ah, bodoh sekali aku, pikirku. Dia tidak sendirian. Dia bersama temannya, dan aku pun tidak tahu siapa nama temannya itu. Ya sudahlah, mungkin suatu saat nanti aku akan tahu...
Pada jam istirahat ketika aku menuju kantin, aku melihat anak-anak kelas 2 sedang mengikuti pelajaran olahraga. Beberapa ada yang sudah istirahat, sebagian lagi masih bermain futsal. Lalu aku melihat anak lelaki yang tadi! Wooooww... Dia lagi main futsal, ya ampun makin ganteng aja, khayalanku menari-nari memenuhi otakku. Ketika aku duduk di bangku kantin, ada seorang adik kelas yang menyapaku dan mengajakku ngobrol, namanya Juliette. Ternyata dia satu kelas dengan anak lelaki itu!!! Aku pun menanyai adik kelasku tersebut nama dari anak lelaki itu. Christian. Christian Leonard.
"Christian...", ucapku sambil memandangi anak lelaki yang sedang asyik bermain futsal itu.
"Iya kak, namanya Christian Leonard. Kakak mau aku kenalin sama dia?", tanya Juliettte. Dan aku? Tak berkutik!
"Atau kakak mau nomor handphone nya? Aku punya kok", sambungnya penuh semangat ingin membantuku. Oh Juliette please... Aku jadi salah tingkah nih...
"Oh, nggak usah Juli, aku cuma pengen tahu aja kok. Soalnya aku cuma penasaran sama namanya, dan gak ada maksud apa-apa. Hehehe...", tolakku dengan halus, padahal hatiku ingin sekali mengetahui dia lebih jauh.
Christian Leonard.
Sepanjang jam pelajaran nama itu selalu terngiang di otakku, aku tak dapat berkonsentrasi mengikuti pelajaran. Tapi untung saja ulangan matematika sudah tuntas! Huuufffttt.... Aku bebas memikirkan Christian.
"Len, minjem handphone lo dong"
"............."
"Len, minjem handphone..."
"............."
"Arlene Samantha! Eh buset dah minjem handphone! Budek lu yee!", bentak temanku karena aku tidak mendengarnya memanggilku. Ia duduk di belakangku.
"Eh maaf Pooja, gue gak denger. Hehehe... Nih handphone nya", ucapku seraya memberikan handphone.
"Lu lagi mikirin apaan sih Len? Dari tadi nih gue perhatiin lu itu bengooong aja, senyum-senyum sendiri lah, aneh banged. Lu kenapa sih? Lagi jatuh cinta yaa?? Ciyeee akhirnya seorang Arlene hatinya diluluhkan! Salut gue! Siapa sih Len? Cerita dong sama gue!", celoteh Pooja yang sangat bawel itu.
"Yaelah ni India, bawel banged dah! Entar juga lu tau kok..."
"Aaahhh Arlene, cerita dong.... Ada apaan sih?? Cerita kek...", Pooja memohon kepadaku.
Aku dan Pooja memang sangat akrab. Apapun yang terjadi pasti aku ceritakan padanya. Begitu juga dia. Kami saling terbuka dan memiliki hobi yang sama yaitu menyanyi dan mendengarkan lagu-lagu wedding dan romantis. Kami sangat menikmati lagu-lagu itu! So sweet...
"Pooja, gue lagi demen nih sama seseorang. Tapi dia adik kelas kita!", akuku sedikit malu.
"Waaahhh ciyeeee Arleneeee.... Tuh kan gue bener! Siapa Len? Siapa namanya??", tanya Pooja penasaran.
Aku menarik napas panjang, "Christian Leonard".
"Christian Leonard? Gue baru denger deh Len. Dia kelas berapa?", tanya Pooja yang semakin penasaran.
"Kelas 2 Perhotelan".
Waktu menunjukkan pukul 3 siang, bel pun berbunyi dan itu tandanya pelajaran hari ini telah berakhir. Seperti biasanya aku pulang naik bus transjakarta. Sendirian.
Aku pun memasuki halte dan ikut mengantri menunggu bus tentunya, sambil masih memikirkan Christian. Oh Christian... Aku.. Aku.. Sepertinya aku benar-benar dimabuk asmara. Aku baru merasakan cinta pada pandangan pertama! Khayalanku terus menjelajahi otakku. Gelora asmara yang tidak seperti biasa aku rasakan sebelumnya, kali ini berbeda! Entahlah... Aku merasa gembira ketika memikirkan nama Christian Leonard...
"Hai kak", sapa seseorang di belakangku. Aku pun menoleh dan... ASTAGA! CHRISTIAN MENYAPAKU! Jantungku berdegup sangat kencang, dadaku sesak, aku seperti tak dapat bernafas. Mataku membelalak tidak percaya bahwa ITU CHRISTIAN! Aku terdiam, tak dapat berkata sepatah kata pun. Ini seperti mimpi!
"Kak? Kenapa?", tanya Christian kepadaku.
Ya Tuhaaaaannn.... Aku benar-benar gak nyangka kalau Christian akan menyapaku. Tapi aku heran, kenapa Christian naik bus transjakarta? Padahal temannya bilang kalau rumahnya dia itu di daerah Duren Tiga dan yang pasti dia selalu naik kopaja P 20. Dan satu hal lagi, dia menyapaku? Darimana dia tahu mengenai aku? Sepertinya aku belum pernah bertegur sapa dengannya... Well, memang belum pernah.
"Eh, errrmm oh, enggak kok, enggak ada apa-apa. Halo juga...", jawabku terbata-bata. Gila, aku jadi salah tingkah begini ada Christian, waduuuhhh gawat nih, pikirku cemas.
"Kakak pulang sendiri ya? Rumah kakak di mana emangnya?", tanyanya lagi.
"Aku selalu pulang sendiri kok. Rumahku di Pulo Gadung. Kalo kamu?", tanyaku untuk memastikan.
"Duren Tiga kak. Tapi aku lagi mau jalan jauh nih, males di rumah. Aku ikut anter kakak aja ya? Boleh kan?", Christian memohon.
Sekali lagi, aku membisu! Tak tahu apa lagi yang akan ku ucapkan. Rasanya aku ingin teriak : YA! TENTU CHRISTIAN! TENTU SAJA! AKU SANGAT SENANG KAMU MENEMANIKU! MENEMANIKU UNTUK SE-LA-MA-NYA!!! Yaaah tentu saja tidak mungkin aku berkata selancang itu.
"Kamu yakin? Itu kan jauh banged kali. Nanti kalo kamu pulang kesorean gimana? Gak dicariin apa nanti sama orang tua kamu?"
"Enggak kok kak. Aku juga pengen ngobrol kok sama kakak. Boleh ya kak..", Christian memohon lagi.
Aku lemah. Amat sangat lemah dibuatnya. "Baiklah. Tapi jangan bosan ya di jalan", izinku.
"Oke deh, thanks ya kak Arlene", jawab Christian penuh semangat.
Aku hanya membalasnya dengan senyuman hangat, karena hatiku terlampau gembira. Christian Leonard! Pencuri hatiku...
Sepanjang perjalanan aku dan dia berbicara tentang kisah-kisah ketika masa praktek kerja industri. Aku menceritakan bagaimana masa-masa praktek kerja industriku, dan dia pun melakukan hal yang sama. Semua yang dia ceritakan sudah diceritakan oleh temannya, Juliette.
Ketika sampai di halte transit Dukuh Atas, antrianku terpisah darinya, namun aku dan dia masih bisa saling melihat. Tak lama kemudian bus pun datang dan kami memasuki bus tersebut. Christian berada di bagian belakang, sedangkan aku berada di depan. Bus yang kami tumpangi adalah bus gandeng jadi sangat sulit bagiku dan Christian untuk dapat bertemu karena bus tersebut juga penuh sesak.
Mataku selalu mencari-cari Christian, dan ketika melihatnya hatiku menjadi amat lega. Christian pun melihatku. Tatapan matanya yang begitu tulus membuat hatiku luluh. Ya Tuhan, apa ini yang namanya cinta? Aku... Aku... Aku bahagiaaaaa....
Pemberhentian berikutnya halte Pramuka BPKP. Biasanya di halte ini banyak orang yang transit menuju ke Tanjung Priuk atau Cililitan. Dan aku nampak Christian terdorong oleh kerumunan orang banyak yang mengakibatkan dia juga ikut turun di halte itu.
"CHRISTIAN.......!!!!"
Aku terlambat. Ya, aku terlambat turun. Pintu bus sudah terlanjur tertutup dan bus melanjutkan perjalanannya. Sial, pikirku. Aku pun belum meminta nomor handphone-nya. Sekali lagi, sial!
Lalu aku pun memutuskan untuk turun di halte berikutnya dan kembali lagi ke halte Pramuka BPKP. Aku mencari-cari Christian tetapi aku tidak menemukannya. Aku menunggunya di halte tersebut sampai tak terasa senja telah tiba. Aku pun kembali ke rumah, dan menangis. Entah kenapa hal seperti ini membuatku menangis. Padahal, aku dikenal sebagai anak yang sangat sulit untuk mengeluarkan setetes air mata. Aku sangat sulit untuk menangis, tetapi kali ini, seorang Christian berhasil membuatku menangis. Seorang gadis sepertiku? Mungkinkah aku benar-benar jatuh cinta?
To be continue...
No comments:
Post a Comment