Belum sempat aku menjawab, ibu itu langsung menunjukkan secarik kertas padaku.
"Ini. Ini tulisanmu kan? Clarissa Ayodya. 9 Juni 2014. Jam 2 siang. Kota Tua. Apa ini benar tulisanmu?", tanyanya.
Melihat kertas itu, aku langsung mengenalinya. Bagaimana tidak, aku sangat mengenali tulisan tanganku ketika aku masih kecil, sedikit berantakan dan setiap menulis huruf 'a', aku selalu menulis bentuknya seperti telur berekor. Tapi itu dulu...
"Iya bu, ini memang tulisan tanganku... Ini, aku juga membawa kertas serupa yang isinya ditulis oleh Yohanes", akuku.
Kuambil secarik kertas dari dalam tasku dan menunjukkannya pada ibu itu. Dan memang, kertas yang ada padaku itu adalah pasangan dari kertas yang saat ini dipegang oleh ibunya Yohanes. Kedua kertas kami sebenarnya adalah satu kertas yang sama namun kami merobeknya menjadi dua.
Air mata menetes di wajah ibu itu. Aku segera mengusapnya.
"Ayo, ikutlah denganku. Anakku sudah menunggumu, nak", ajak ibunya Yohanes.
Sebenarnya begitu banyak pertanyaan yang berputar-putar di dalam benakku, kenapa tidak Yohanes sendiri yang menemuiku? Kenapa ia menyuruh ibunya untuk bertemu denganku? Tapi... aku beesyukur bahwa ternyata Yohanes sama sekali tidak melupakan janji kami berdua...
"Baiklah, ayo bu...", aku menerima ajakannya.
Kami menaiki mobil yang dikendarai oleh ibu Yohanes dan langsung bertolak ke rumah Yohanes.
"Di mana kau tinggal, Clarissa?", tanyanya.
"Aku tinggal di daerah Pluit, bu", jawabku.
"Wah jauh sekali. Kami tinggal di daerah Cilandak", kata ibu Yohanes.
Sepanjang perjalanan, ibu Yohanes banyak bertanya tentang diriku, hingga tak terasa kami pun sudah sampai di rumah Yohanes. Rumah dengan 2 lantai dan tembok bercat abu-abu tua yang begitu sederhana, dengan garasi dan taman kecil di depannya.
"Ayo kita masuk" ajak ibu Yohanes.
Jantungku semakin cepat berdebar sehingga membuatku sedikit salah tingkah di depan ibu Yohanes.
Aku memasuki ruang tamu dan duduk di sofa panjang beludru berwarna merah marun. Ibu Yohanes pergi ke belakang. Aku tak tahu ia kemana, namun ketika ia menghampiriku, ia sudah membawa beberapa album foto yang ternyata berisi foto-foto Yohanes.
"Ini foto-foto Yohanes. Kau kan hanya sekali bertemu dengannya. Lihat-lihat saja dulu. Oh iya, sebentar aku hampir lupa." kata ibu Yohanes.
Ia kembali ke belakang dang ternyata ibu Yohanes membuatkanku susu putih hangat.
"Ah, tidak usah repot-repot bu" kataku.
"Tidak apa-apa nak, ini adalah minuman kesukaan Yohanes" jelasnya.
Yang masih menjadi pertanyaanku adalah, Di mana sebenarnya Yohanes? Aku masih sibuk memikirkan hal itu sambil melihat-lihat foto-foto Yohanes. Ia tampak lucu dan menggemaskan ketika masih kecil. Dan ketika ia besar pun, wajahnya masih tidak jauh berbeda, ia begitu... tampan...
"Bu, aku ingin bertanya..." ucapku.
"Iya nak?"
"Di mana Yohanes sekarang? Aku belum melihatnya dari tadi..." tanyaku.
Ibu Yohanes hanya tersenyum. Tampak mata coklatnya mulai berkaca-kaca.
"Baiklah, aku akan membawamu ke tempat anakku. Dia berada tidak jauh dari sini." jawab ibu Yohanes.
Dia berada tidak jauh dari sini? Di mana dia? Apa dia sedang bermain di rumah temannya? Ah... aku tidak mengerti....
Kami pun berjalan menuju tempat Yohanes. Ibu Yohanes berjalan tepat di depanku. Hanya sekitar 5 menit, ibu Yohanes menghentikan langkahnya di depan pekuburan. Ia menundukkan kepalanya. Aku yang tidak mengerti apa-apa memikirkan sesuatu yang sangat tidak aku inginkan. Jangan-jangan... Yohanes... Oh tidak... Ini tidak mungkin...
Ibu Yohanes mulai melangkahkan kakinya lagi dan berjalan menuju ke dalam pekuburan. Tidak jauh dari gerbang depan pekuburan, kami pun berhenti di kuburan yang masih belum ditumbuhi rerumputan.
"Sekarang kalian sudah bertemu..." ucap ibu Yohanes.
Detak jantungku terasa seakan terhenti ketika mendengar pernyataan ibu Yohanes. Aku pun perlahan melihat tulisan di batu nisan kuburan ini. 'Yohanes Ricardo. 3 Februari 1994 - 28 April 2014.'
Aku terpaku, tak dapat bernafas. Air mataku sudah tak terbendung. Aku benar-benar masih belum percaya akan apa yang aku dengar dan aku lihat ini. 12 tahun aku menunggu... Aku tidak pernah merasakan jatuh cinta kepada lelaki lain ketika aku beranjak remaja hingga saat ini karena janjiku pada Yohanes... Banyak pria yang berusaha mendekatiku namun semuanya hanya kuanggap sebatas teman, karena tempat spesial di hatiku sudah ditempati oleh Yohanes... Cinta masa kecilku... Tapi sekarang... dia...
Bahkan belum sempat aku bertemu dengannya untuk kedua kalinya, ia sudah meninggalkanku...
Aku berlutut di samping kuburan Yohanes dan tak terasa wajahku sudah dibanjiri oleh air mataku sendiri. Ibu Yohanes tampak tidak kuat melihat kuburan anak kandungnya ini. Ia memalingkan wajahnya dan membelakangi kuburan Yohanes. Aku memeluk kuburan itu dan mengelus-elus batu nisan yang terpatrikan nama Yohanes Ricardo.
"Yohanes, ini aku Clarissa. Aku sudah ada di sini... Aku di sini ingin menepati janji kita... Janji kita untuk bertemu lagi... Aku senang, sekarang aku sudah bisa bertemu denganmu lagi... walau ragamu tak ada di sini. Aku akan selalu menjaga perasaanku ini seperti yang kulakukan sebelumnya. Kau sudah berada di nirwana, bersama dengan Yang Kuasa. Aku... aku hanya bisa mendoakanmu dari sini. Aku harap, kau juga mendoakanku dari sana..." ucapku sambil menahan tangisku.
Aku menciumi tanah kuburan Yohanes dan meletakkan kepalaku di atasnya.
"Clarissa... sebelum kematiannya, Yohanes memberikan ini padamu." kata ibu Yohanes sambil memberikan selembar kertas putih padaku.
Bersambung.