Janji Masa Kecil
Aku terbangun dari tidurku dan melihat jam di handphoneku. Ini sudah jam 9 pagi. Aku harus segera bersiap-siap. Jantungku berdegup begitu kencang, hatiku mulai tidak sabar. Aku langsung menuju ke kamar mandi dan membersihkan tubuhku. Aku harus terlihat begitu sempurna di hari yang spesial ini. Selesai mandi, aku memilih pakaian yang akan aku gunakan. Sebaiknya... baju apakah yang akan kupakai hari ini? Apa aku harus menggunakan pakaian yang casual... atau semi formal? Hemm... sepertinya sweater berwarna peach dan rok panjang santai berwarna putih ini cocok denganku. Baiklah, aku akan memakainya! Aku mendandani wajah mungilku dengan polesan bedak dan sedikit lipgloss di bibir kecilku. Aku menguncir rambutku dan menyisakan poni yang mengarah ke samping kanan wajahku. Aku menggunakan tas selempang kecil dan hanya membawa dompet, handphone, dan secarik kertas yang bertuliskan tangan anak lelaki kecil berumur 8 tahun yang isinya "Yohanes Ricardo. 9 Juni 2014. Jam 2 siang. Kota Tua". Ketika aku melihat kertas itu, aku langsung tersenyum. Kumasukkan kertas tersebut dan bergegas pergi.
Hari ini, 9 Juni 2014, aku akan bertemu dengannya. Bertemu dengan pujaan hatiku yang sudah 12 tahun tak bersua. Lelaki kecil yang sekarang sudah beranjak dewasa. Ia seusia denganku. Umurku sekarang 20 tahun.
Di sepanjang perjalanan, aku tak bisa berhenti memikirkannya. Wajah lucunya masih sangat terpatri di dalam benakku. Aku mengingat kembali memori manis yang oernah aku jalani bersamanya walaupun itu hanya satu hari. Ya, hanya satu hari aku menghabiskan waktu bersamanya ketika usia kami 8 tahun.
Tak terasa, aku pun sampai di Kota Tua. Hari itu panasnya sangat terik. Aku duduk berteduh di depan Museum Fatahillah memandangi para musisi jalanan yang mengalunkan musiknya yang merdu. Kulihat arloji merah mudaku sudah menunjukkan pukul 2 siang. Mataku langsung otomatis mencari-cari wajah lelaki kecil yang berada di dalam ingatanku.
Belum kudapatkan dirinya, aku oun beranjak dari tempatku berteduh tadi dan berjalan-jalan di sekitaran Kota Tua, dengan harapan aku dapat bertemu dengannya.
"Yohanes...", gumamku.
Aku mulai lelah. Sudah tiga kali kukelilingi tempat ini, tetapi aku masih belum menemukannya. Di mana dia? Apa ternyata dia melupakanku? Apa dia benar-benar tidak ingat dia pernah membuat janji dengan seorang anak perempuan yang saat itu memakai gaun merah muda, bandana dengan warna senada, dan sepatu mungil berwarna merah?
Aku menghentikan langkahku dan berteduh di bawah pohon rindang di samping museum. Tak terasa air mata menetes membasahi pipiku. Aku segera mengusapnya dan tiba-tiba ada seorang wanita paruh baya menghampiriku.
"Apa kau... Clarissa Ayodya?", tanya wanita itu.
Da... dari mana ia tahu namaku...? Si... siapa dia...? Apa aku harus jujur menjawabnya bahwa aku adalah Clarissa Ayodya?
"Ya... aku Clarissa. Ada apa, ibu?", tanyaku.
"Puji Tuhan. Aku kira kau tidak akan datang. Dari tadi aku mencari-cari keberadaanmu.", jawab ibu itu.
Apa? Sejak kapan aku memiliki janji untuk bertemu dengan ibu ini? Aku tidak ingat oernah bertemu dia sebelumnya...
"Ibu mencari saya?", tanyaku dengan nada sedikit heran. Walaupun sebenarnya aku sangat begitu heran.
"Oh iya. Aku ibu dari Yohanes Ricardo. Kau kesini pasti ingin bertemu dengannya kan?", tanya ibu itu hingga membuat matanya tiba-tiba berkaca-kaca.
Bersambung.
No comments:
Post a Comment